Mewujudkan insan yang Qur’ani, Amali, dan Saintis sehingga mampu mencetak generasi-generasi Qur’ani, Sebelum melanjutkan artikel Panduan Memilih Pondok Pesantren, Sekedar kami info:

Apabila Anda Mendambakan putra/putri untuk menjadi Tahfidz kunjungi website Pondok Pesantren Tahfidz

Periode wabah membuat beberapa ortu mengetahui jika mengurusi anak tidak gampang. Apa lagi jika telah tiba ke yang lebih detil mengajarkan pengetahuan yang tidak kuasai. Walau sebenarnya belum pasti anak menyenangi sektor pengetahuan yang terkuasai ortu. Ditambah lagi sektor agama. Sedikit yang menguasainya.

Karenanya, pesantren jadi sandaran keinginan. Pesantren menjadi tempat isolasi, karena didalamnya mereka terbatasi. Cuman berkawan dengan sama-sama santri. Pada umumnya, beberapa santri dapat ditata untuk lakukan limitasi pertemanan cukup dengan sama-sama mereka untuk menahan terjangkit Covid-19.

Tetapi, sudah pasti harus diputuskan pesantren yang bukan hanya batasi gerak mereka. Harus juga ditegaskan mereka memperoleh pengajaran yang bagus didalamnya. Nach, ini yang kerap tidak jadi perhatian oleh beberapa ortu.

Pertama, kemampuan keilmuan pengasuhnya. Ini bila pondok ialah punya individual, bukan sebuah lembaga yang impersonal. Ini perlu, karena pengetahuan dan visinyalah yang hendak jadi misi pesantren. Ini yang tidak gampang. Karena, untuk menghitung kedalaman air, termudah harus memakai meteran. Mengukut kemampuan keilmuan orang, sudah pasti harus dengan kemampuan keilmuan juga. Paling gampangnya check penglihatan-pandangan pada media, baik lisan atau tulisan, yang sekarang gampang didapat. Tinggal tulis namanya dan instansi pengajaran yang diurusnya. Atau reputasi yang sempat dilakukan. Samakan dengan keinginan anak ingin apa?

Ke-2 , jumlah dan kualitas pengajar simpatisan. Mustahil seseorang mendidik semua sektor pengetahuan, ke banyak siswa. Karenanya, pesantren yang bagus, ialah yang mempunyai tenaga pengajar yang kompak dengan kualitas dan jumlah yang cukup. Kwalitasnya dapat disaksikan dari profilnya. Dapat disaksikan dari instansi penidikan mana mereka belajar. Bila sarjana atau master, dapat disaksikan khususnya S1nya.

Kemudian jumlahnya, untuk menyaksikan rasio guru/ustadz/ah dengan siswa. Rasionya pasti jangan kecil. Semakin kecil rasio guru:siswa, karena itu siswa akan semakin tidak terawat. Ingat, anak-anak membutuhkan perhatian khusus, sesuai talenta ketertarikan mereka.

Misalkan mereka ialah ayam, bebek, burung, tupai, ikan, katak, dan lain-lain. Bila semua diminta menyelam ke air, yang itu ialah keperluan ikan, maka ada beberapa yang tersengal-sengal, bahkan juga mati. Bila semua diminta lompat pada ketinggian, yang itu cuman ketrampilan tupai, maka banyak yang cedera dan tulang patah. Dan sebagainya.

Kebalikannya, bila ikan tak perlu diminta berenang atau menyelam. Ia akan melakukan dengan suka. Yang dibutuhkan ialah air yang berkualitas yang mengandung oksigen yang cukup. Bila anak-anak mendapati lingkungan yang bagus, dengan pemandu yang berkualitas, karena itu minat dan bakat mereka akan berkembang secara cepat, dan terus akseleratif.

Dalam kerangka ini, pilih pesantren yang ramai, alias banyak santrinya, tidak salah, asal didalamnya ada pengajar dengan kualitas dan jumlah yang cukup. Langkah belajar massal, alias pengajian umum, tidak dapat mencapai secara individual.

Walau sebenarnya, khususnya untuk pengajaran di tingkat dasar dan menengah, itu benar-benar dibutuhkan, bahkan juga sebuah kebenaran. Yakinkan, rasio guru:siswa paling kecil 1:20. Ini penting ditegaskan karena 90 % pemasti kesuksesan pengajaran ialah guru. Sarana simpatisan berbentuk gedung dan lain-lain, cuman 10 % saja. Tetapi, kesalahan umum ortu dan apa lagi anak, ialah menyaksikan bangunan-bangunan yang kelihatan eksklusif sebagai yang khusus.

Ke-3 , terbuka untuk semua kelompok. Di masa datang, dibutuhkan beberapa orang yang mempunyai wacana terbuka dan luas. Fanatisme akan membuat anak jadi seperti katak dalam tempurung. Karenanya, anak-anak harus dibiasakan dengan lingkungan yang ada keberagaman, baik suku, kelompok, atau penglihatan keislaman. Pola hidup dalam keanekaragaman akan membuat mereka sudah siap hidup dimanapun dengan keluwesan.

Ke-4, mempunyai fasilitas peningkatan ketrampilan hidup. Nalar harus didukung oleh logistik. Kemampuan cendekiawan terus akan berkembang bila bersatu dengan kemampuan keuangan. Karenanya, anak-anak membutuhkan training sejak awal kali dalam soal ketrampilan hidup. Ketrampilan berikut yang hendak membuat mereka jalani realita kehidupan dan berperan nyata. Tidakkah perintah jihad dalam al-Qur’an memakai harta? Tidak cuma jiwa saja. Bahkan juga harta disebutkan yang pertama.

Ke-5, tidak begitu dekat sama rumah. Bila terlampau dekat sama rumah, karena itu anak tidak fokus di pesantren. Kemauan pulang bisa jadi ada setiap waktu dan betul-betul melakukan, karena dapat dijangkau oleh transportasi lokal. Sementara mondok membutuhkan kejenakan, hingga anak nikmati proses belajar.

Dengan begitu kontinuitas transfer pengetahuan dan nilai dapat berjalan, tidak terjeda oleh apa saja. Bahkan juga bila jarak pesantren dengan rumah jauh, kembalinya bisa menjadi jarang-jarang, dan anak tidak mempunyai alternatif lain selainnya tinggal di pesantren sampai krasan dan menyesuaikan dengan lingkungan baru, sampai dia mengetahui jika berikut yang malah dia perlukan untuk jalani periode depannya.

By nasya